Minggu, 13 Desember 2015

kumpulan haiku

keciap ayam
ramai memanggil induk
minta sarapan


suara kodok
dari tenggorokanku
tak henti batuk


butiran tasbih
melayari rembulan
hingga ke langit



langit menangis
takbir muadzin lepas
masjid melompong



mengeja tanda
di ruang dini hari
alif melangit



jalan berlubang
kolam dadakan lahir
tak ada ikan



mengikat janji
di ahad yang menggigil
doa melangit



terjerat pagi
matahari merajuk
tak mau bangun



di rintik hujan
kudengar suaramu
menikam malam



bangku keropos
di tengah taman kota
simpan berita

Senin, 07 Desember 2015

Minggu, 06 Desember 2015

haiga

menampi beras
serahpun berlompatan
tarian pagi

haiga

 

IGgalery ridwankamil
 
duhai kelana
rinduku bertebaran
disapu angin

Menampi Beras

serah berlompatan
di atas nyiru
gerak ritmis
bu tani

google : ayofoto.com

Kumpulan haiku Ani

ketika ruku
definisi semesta
masuk sajadah

liukan resah
gelombang yang menari
bab pencarian

menampi beras
serah pun berlompatan
tarian pagi

*serah (dengan e taling)= bulir padi yang masih ada kulitnya, biasanya terselip di antara beras yang akan dimasak (bhs sunda)


di sisa hujan
daun jambu menangis
balada pagi
6.12.15


geliat ulat
disentuh dingin subuh
tasbih alami
6.12.15


di balik daun
sepotong perjalanan
tersimpan waktu
5.12.15


pekik muadzin
membelah tangis langit
di surau itu
5.12.15


langit gemuruh
kucing berlari-lari
di bawah payung
5.12.15


hujan memanggil
batang baju melambai
jemuran kuyup
5.12.15

gending mengalun
pagi menggigil basah
pengantin resah
22.11.15


aroma pagi
mengukir tanah basah
pesan sejarah
22.11.15


MENIKAM MALAM
di cangkir kopi
bulan berenang renang
enggan tertidur
18.8.15



BATAS SENJA
di hadapanku
matahari menepi
maut membayang
14.8.15


SIBUK
kertas dan angka
berputar di udara
dikejar deadline
11.8.15


DUSTA
lidah menari
sore beranjak pagi
kerontang janji
26.7.15



BERDUA LAGI
menuju setengah Din
anak bertumbuh
musim menua
26.7.15


MENJALIN KASIH SAYANG
silaturahim
di segala cuaca
panjang usia
25.7.15



Kamis, 03 Desember 2015

Semilir

1.
saf-saf bambu, tegak
menafsir angin
jelang pagi
bertasbih

2.
gelepar daunmu
memetik hening
dawai hati
bergetar



Raden Dewi Sartika

1.
dari bilik waktu
kulihat kilat
di matamu
binari


2.
di dua dunia
keliru tafsir
air mata
sejarah

3.
membangun wanita
Parahiangan
didik bangsa
sejati

4.
ibu peradaban
rumah idaman
benih surga
dunia


‪#‎sonian_ars‬
4 Desember 2015

DIMENSI


terbangkan matramu
jauhi ruang
sampai lepas
ikatan


‪#‎sonian_ars‬
‪#‎sonigraph‬
Des 2015
Gambar from google

Senin, 30 November 2015

Minggu, 29 November 2015

Sabtu, 28 November 2015

AMBANG


di antara ruang
jaga dan mimpi
ada ambang
bermakna


‪#‎sonian_ars‬
Grt. 28.11.15

KONTEMPLASI


menafsirkan jejak
almanak merah
bayang maut
menguntit


MEMIMPIN SEPI


biarkan menepi
segala sunyi
dalam geming
sendiri


*Untuk yang sedang menyepi

RISALAH

Sonian persembahan dari sahabat Okty Budiati

-kepada Ani Rostiani

I
Pada labuh hati
Telah berlayar
Bunyi sujud
Menggetar 


II
Dalam gerak mimpi
Mengutip bintang
Baca kalam
Semesta

‪#‎sonian_obudiati‬

Senin, 23 November 2015

CATATAN 21 TAHUN


                      untuk: suamiku

menyelam ke palung
waktu mengalun
suaramu
gerakku


23.11.15

Minggu, 22 November 2015

ADAT KAKURUNG KU IGA


‪#‎soniansunda‬
sok sanajan jeding
biwir ngocomang
kuat adat
teu robah


meski buih mulut
kirim petuah
perilaku
tak ubah
Garut 22.11.15

RUMI


dari abad lampau
kuraba rindu
yang kau tulis
di relung


Sabtu, 21 November 2015

GERIMIS PAGI


kita bermesraan
di bawah langit
aku lari
kau kejar


‪#‎sonian_ars‬
Grt 21.11.15

PELAKON


menjelma siapa
di atas panggung
tubuh hilang
terasing


FIRASAT


1.
alam berbahasa
pada gelombang
kirim pesan
berulang


2.
semesta bicara
tanpa suara
rekam detik
terima

3.
periksa ke dalam
juga ke luar
penyangkalan
tak guna

‪#‎sonian_ars‬
Garut - 21.11.15

SENI


1.
musik, kisah, gambar
sungai mengalir
setiap not
bicara


2.
langit inspirasi
membentang unik
nafas jiwa
personal

3.
gerak, warna dan ruh
membingkai zaman
melengkapi
sejarah

4.
selami lekuknya
hirup detaknya
dinikmati
indahnya

‪#‎sonian_ars‬
Garut 20:32 - 2015

Jumat, 20 November 2015

PENYAIR SUNYI


1.
syair-syair sunyi
mengalir lepas
diam-diam
di palung


2.
melaut aksara
di kebisuan
larung jiwa
sendiri

3.
atas nama Cinta
madah pujian
dilangitkan
bagiNya

‪#‎sonian_ars‬
Garut - 20.11.15

UJUB


1.
laksana gergasi
licik mengintip
tiba-tiba
menerkam


2.
mengendap perlahan
hati pun robek
kitab amal
terkoyak

3.
hati jaga hati
keliru niat
terpelanting
terbakar

‪#‎sonian_ars‬
20.11.15

Kamis, 19 November 2015

MENANTI


laron-laron kecil
tuju cahaya
ajal indah
datanglah


MALAM RENTA


 
1.
detak suaramu
memilin resah
degup jantung
menggema


2.
petikan kecapi
membungkus sepi
angin rintih
gemetar


3.
angkasa menari
di keheningan
bumi gaduh
menabuh


4.
lolong dari jauh
menusuk sunyi
tagih janji
menepi

Rabu, 18 November 2015

TERSESAT


dalam cawan cinta
ahli mahabbah
lupa pulang
ke bumi

SHALAWAT


1.
Allahumma shalli
'alaa Muhammad
Nur, cahaya
syafaat


2.
Allahumma shalli
'alaa Muhammad
sinar jalan
firdaus

3.
Allahumma shalli
'alaa Muhammad
rindu hamba
bersua

‪#‎sonian_ars‬

Minggu, 15 November 2015

ekstase

perlahan kusapa tubuh pagi dengan gemetar
meraba dinding pualam yang kau tawarkan tadi malam
aku gugup
menerjemahkan hasrat yang kau titipkan pada desah
merapal ubun-ubun kamar yang geming
menepikan rasa yang menggeliat di sudut abu-abu

semestinya kurapalkan mantra kunang-kunang
biar terang kerlip di binar lenganmu
menarikan rasa di jariku
lalu kita terbang
menuju keabadian yang kau tawarkan
hingga matahari merampas
malam-malam kita


mencari

ada banyak kata yang berserak
tak mampu disimak

ada banyak rasa yang tertinggal
tak pantas dipenggal

hidup adalah perjalanan sunyi
tentang penemuan diri sendiri

kemanapun kau pergi dan kembali
dimanapun kau diam dan menyelam

muaranya di sini




Jumat, 06 November 2015

J U Z



1.
satu cetak biru
serupa jejak
dalam firman
tergurat

2.
sistem rahasia
bergerak laju
saat dawam
terjaga

3.
sempurnakan mi’raj
mendaras ayat
tuju langit
tertinggi

4.
adalah formula
berbaris-baris
amtsal fikir
terpecah

5.
dan juz-juz bersinar
di padang lapang
naunganNya
terbentang

Garut - 7 Nopember 2015

Minggu, 01 November 2015

Kamis, 29 Oktober 2015

Selasa, 27 Oktober 2015

Warnai Harimu

1.
perang baik buruk
warnai bumi
kasta lenyap
sejenak
2.
enyahlah angkara!
ku ingin bunga
dalam rupa
berwarna



‪#‎ditantangKangDave‬
gambar Festival of Colour dari kang David Darmawan Siswandi
festival ini biasa diadakan di India pada akhir musim dingin/awal musim semi, sebagai simbol kemenangan kebaikan atas kejahatan. Saat itu, uniknya tak memandang kasta dan semua orang saling lempar tepung warna-warni

Rabu, 14 Oktober 2015

Jumat, 09 Oktober 2015

PANINEUNGAN



mapay nu kamari
ngagelik suling
na mamaras
ngagurat



KENANGAN
menyusuri masa
suling merintih
dalam dada
tertanam
9.10.15

Perjalanan

orang lalu-lalang
menuju janji
ingat pulang
sendiri


10.10.2015

Saat Duduk

pada satu gawai
genggam dunia
dua sisi
pilihan


10.10.15

Selasa, 06 Oktober 2015

Jumat, 02 Oktober 2015

...

BOLA

di bundar rupamu
sejuta hidup
dan harapan
melingkar


HUJAN PERTAMA
ruap tanah basah
hujan pertama
bulan hirup
aroma



Kamis, 01 Oktober 2015

Rabu, 30 September 2015

Senin, 28 September 2015

Senin, 21 September 2015

Sonian Idul Adha

KAMBING QURBAN
menatap matamu
getaran pasrah
ajak daras
ayat-Nya


IDUL QURBAN
hari ini, sungguh
tentang hakikat
pengorbanan
ruhani

haikuKu

kueja kitab
huruf berpendar-pendar
terangi malam


bangun di shubuh
tunggu air mengalir
efek kemarau


kata dan kopi
berkejaran di lidah
menanti pagi

Minggu, 20 September 2015

Sabtu, 19 September 2015

Panggung Siang Musim Kemarau



Hari ini kulihat sebuah adegan

: Satu perempuan berkata : ‘aku merasa tak dihargai’
berlembar kisah mengalir dari kesakitan yang dalam
meski senyum masih membayang, menertawakan panggung

Satu perempuan lagi berkata : ‘bicaraku fakta,
yang salah dia, kenapa kau yang marah?’
secarik jawaban menyeruak dari ketakmengertian yang beku
meski senyum masih membayang, menertawakan panggung

topeng-topeng ditanggalkan
Sebuah drama merobek siang yang garang
Matahari enggan sembunyi, nyala membara
Angin tak sudi lewat bahkan untuk sekedar meniup 
ubun-ubun yang mendidih
sepercik bara telah terpantik
menyambar sesiapa yang lewat dekat-dekat
lalu api menggila
segala terbakar! Membakar!

tetes air hanyalah jeda semenit
api menjalar dalam sekam
membakar perlahan-lahan

duhai kemarau
seganas itukah kau kirim panasmu?
isi tubuh luruhkan keringat dan air mata

aku dipaku
tak mampu berlaku
gemuruh dada sebut namaMu
bakar aku, bakar aku,
dengan RahmatMu

19 sept ‘2015

Selasa, 15 September 2015

HaikuKu

patalimarga
di musim yang kerontang
klakson menjerit


                        kemarau panjang
                        kukirim pesan langit
                        melawan asap


siang di kompleks
musik dangdut menghentak
telinga pekak


                         di cangkir kopi
                         bulan sabit menipis
                         rindu menepi

Minggu, 13 September 2015

Jumat, 11 September 2015

Tangki Air

serupa itukah gemuruh di
dadamu? menggelontorkan berribu liter air
lewat slang yang bergetar
mengisi puluhan tong yang mengantri di
setiap rumah
di kampungku

malam serupa pasar
bulan sembunyi, malu melihat PDAM
yang jadi gagu
saat meraba jalur air yang dibelokkan
tangan politik

gemuruh masih riuh
mengoyak malam
di kampungku
serupa amarah yang menggelegak
di dadamu : 'susah senang tanggung bersama!' 

kulihat paralon sepanjang jalan
digerogoti kemarau

Usai Maghrib

betapa kutemukan ruang kosong
di ujung sujudku
ada hembus menelikung

kirim wajah  yang memutih
lalu perdebatan tentang cinta dan
catatan lama sebuah waktu yang harusnya
jadi sejarah

perjumpaan denganMu, gagal sudah
ruhku terperangkap!
sisakan tubuh yang teronggok
di atas sajadah

Tuhan ...
guyur jiwaku dengan rahmatMu

membacamu

membacamu, seribu satu tafsir berlarian
aku pandangi angin yang
menyelinap ke tubuhku dan berbisik :
'apa yang ingin kau bilang?'

pada darah yang tak henti mengalir
aku titipkan inginku sambil menghitung
waktu saat perjanjian tiba

'aku ingin memahamimu'
dan angin pergi
melintasi pagi

Andai Engkau Di Sini

Andai Engkau di sini, sekarang
ingin kulesakkan pengakuan :
betapa nista kami

maafkan kami yang tak mampu
menahan kata, tersembur begitu liar
saling menghujat
menancapkan mata panah

harusnya malu kami menyebut sebagai ummatmu
sedang wajahmu tentulah engkau palingkan
saat kata-kata menjelma bah
wajah-wajah berhadapan dendam dan amarah

duhai Kekasih ...
dengan apa harus kubasuh luka hatimu
yang bernanah ..?

Andai Engkau di sini, sekarang
masihkah dengar rintihan ini?
bagai musafir rindu mata air
luka yang makin menganga oleh
kedhaliman diri

duhai  Kekasih ...
bagaimana mengusap air matamu?
sedang demikian bebal kami
tak jua paham kelembutan jiwamu saat
menyebut kami jelang ajal : ummatii ... ummatii .. ummatii ...

Andai saja Engkau ada di sini, sekarang


Kamis, 10 September 2015

Padamu

Wahai sahabat penentang kejahiliyan
telahkah engkau tundukkan hatimu sendiri
pada kebenaran yang engkau buihkan
pada kebaikan yang engkau lisankan
hingga tiada lagi pertentangan yang melibatkanmu
atas nama apapun ...?



Selasa, 08 September 2015

Pusaran Rasa

berkata-kata pada sendiri
memusarakan prasangka yang meracun
perdebatan sunyi
memerdekakan pribadi

pada kesejatian 
biarkan rahwana berbuih seorang
sebab dengannya
bara api membakar hingga
mati nurani

turbulensi rasa
memusat di palung jiwa

Jumat, 28 Agustus 2015

Jumat, 21 Agustus 2015

Episode Senja di Langit Ciawitali

Sekejap lalu
kutemukan dirimu dan dirinya berkalang kata
separuh murka
sebagian luka
Lembayung legam dan kepak kapinis
mengiris langit ujung musim kemarau
air mata menggenang di gelincir hari

pergumulan atas nama matahari
dalam hitungan jam terbunuh bulan
kelam didekap malam

tak ada pengandaian
salah sejatinya milik kita

waktu tak pernah mau mengalah


#22Agustus2015

Selasa, 18 Agustus 2015

Senin, 17 Agustus 2015

Sabtu, 15 Agustus 2015

Jumat, 14 Agustus 2015

Sabtu, 08 Agustus 2015

menanti hujan

aku musafir
rindu mata air
tertatih-tatih merapal doa
padaMu

saat jeda

di setiap musim yang kerontang, atau
musim menghujan yang badai
maut mengintip dalam senyap
dan aku terkesiap

hela nafas adalah jeda
bagi perjumpaan
yang
didamba

Rabu, 05 Agustus 2015

Senin, 03 Agustus 2015

Kamis, 09 Juli 2015

***

LIDAH TAK BERTULANG
1.
Mulutmu harimau
menerkam kata
hati-hati
bicara

2.
lidah tak bertulang
meliuk liar
sungkurkan mu
ke jurang
grt. 080315

KELUARGA (2)
bagai medan magnet
tarik menarik
barat timur
melekat

grt. 070315

HUJAN
sedu sedan langit
kuyupkan bumi
matahari
membeku

grt. 070315

KELUARGA
perahu berlampu
matahari, nun
pijar cinta
bersama

grt-070315

MENGAJI (5)
butiran ayatNya
di piring nasi
pagi ini
mengilau

grt.070315

Selasa, 30 Juni 2015

Apa Yang Kau Cari, Gardena?

ada kerlip lampu yang dibekap bulan
pada jalanan yang kuyup air mata
para perempuan dini hari
tak lagi terang segala duga
air mata atau mata air?
tawa berahi atau belati?
 
benarkah Tuhan yang memilihnya?
atau ia yang mengais sendiri
remah-remah nasib di pematang syahwat
tak peduli cahaya Tuhan dalam dirinya?

perempuan penghibur, sebutannya
siapa menghibur apa?
siapa dihibur apa?

di beranda pagi
si mamih tunggu setoran


Senin, 15 Juni 2015

Waktu, Sang Penyembuh

dengar bisikan waktu
ketika laju mengacu musim ke sekian
serpih luka menjelma butir hikmah
rasa berevolusi pada esensi

matahari adalah penanda hidup yang beranjak
dari janji ke penunaian
sebagaimana bulan setia pada malam apapun bentuk rupanya

dengar bisikan waktu
ketika kupu-kupu mulai lahir
dan dedaun hijau dalam kepaknya yang sempurna

kemana perih nanah yang kemarin?
dimana ulat jijik yang menggeliat di ujung musim?
apa kabar nelangsa dan rasa kecewa?

lirih waktu yang merepih
menjahit luka bernanah
menyulam kecewa dengan benang emas pemahaman
merajut nelangsa di antara matahari dan pelangi

adalah pereda nyeri usai pemenuhan janji

hidup menandai musim
bersalin rupa dan aroma

kini waktu bernama penyembuh
kelak, tiba waktu Sang Penentu



Minggu, 14 Juni 2015

Kabut Pagi Hari

mencoba memahami kabut pagi hari
ketika air mata embun menetes satu-satu
dan dedaunan melepasnya dengan ringan

mencoba mengerti kabut pagi hari
ketika ia menaiki langit pelan-pelan
dan bebatuan memandangnya dengan senyum

mencoba menangkap kabut pagi hari
ketika rindu menembus dada hati-hati
dan rerimbunan hasrat menggapai dengan rikuh

sesaat saja
meninggalkan jejak tak terlihat:
i.k.h.l.a.s.


Jumat, 29 Mei 2015

Selasa, 26 Mei 2015

Menjemput Pagi

1.
fajar merah muncul
lenyapkan pekat
dari mimpi
semalam

2.
fajar merah muncul
lahirkan niat
bangun arti
mentari
3.
Semburat mentari
munculkan tekad
isi hari
berarti
‪#‎selamatpagi‬, sahabat sonian

Senin, 25 Mei 2015

Imitasi


1)
bila nasi saja
berubah plastik
bagaimana
janjimu?


2)
bayangkan ketika
perutmu meral
jadi balon
akhirat

3)
jangan cuma duit
yang engkau mau
kelak beras
berhitung


BERAS PLASTIK

di toko mainan?
bukan! Ada di
meja makan
negriku



*ketika beras plastik beredar di pasaran, entah apa yang ada di benak para produsen

Menjemput Pagi (*sonian


1.
fajar merah muncul
lenyapkan pekat
dari mimpi
semalam

2.
fajar merah muncul
lahirkan niat
bangun arti
mentari

3.
Semburat mentari
munculkan tekad
isi hari
berarti



Rabu, 20 Mei 2015

puisi alit

kukulum cemas dalam cangkir pagi,
berteman kopi pahit,
dengan gambarmu yang menyerbu
dari segala penjuru




MEMORI KOPI

Malam ini kopi
Mengingatkanku
Tentang arti
Merindu


17.05.15



Minggu, 17 Mei 2015

Sabtu, 16 Mei 2015

beberapa sonian edisi Mei

INDIGO
ada banyak mata
tak mampu lihat
yang kau lihat
sekarang



KECEWA

hitam putih rasa
memilin dada
rebak mata
mendera



16.05.15


AMBANG

1.
di antara waktu
jaga dan maya
aku cari
namaMu

2.
sebuah ruang ruh
duhai semesta
kusebut Kau
alHusna

3.
adakah gelombang
mempertemukan
ruang waktu
menyatu?

4.
tak selalu rindu
satu per satu
ambang batas
melebur








Sabtu, 02 Mei 2015

RENCANA
seikat tulisan
juga obrolan
berjejalan
mengantri

#2Mei

SAHABAT
ketika melipat
waktu dan ruang
kau dan aku
senyawa

#7April 


PERJALANAN
lelah dan istirah
hanya penanda
langkah belum
selesai

#2April

Ponsel Hati
bunyi nada hening
bangunkan ruh ku
tengah malam
menghamba

1.4.15

PERLOMBAAN
satu lawan satu
bukan denganmu
tubuh jiwa
bertarung

1.4.15

PENIPU
merayap di inbox
seperti ular
hati-hati
penipu

#1Mei

huruf kecil saja
huruf kecil saja
yang aku pilih
selainnya
menguap

20:01

MERAH
bukan warna benar
aku menjauh
darah, api
rasaku

#29Maret

MENGAJI (7)
setiap berjiwa
gelisah pada
janji asal :
o maut

‪#‎mengenang‬ Olga Syahputra

SELAMAT JALAN
di guyuran hujan
dirimu, Olga
deras doa
melangit







Senin, 13 April 2015

tetangga

pot bunga di pelataran rumahmu, itu aku yang kau sirami
hangat diterpa kilat sayap bibirmu, kirimkan sepiring cinta
lalu bulan menyimpan ratusan tangis dan rengek bayi, terdinding rumah kita

dirimu adalah aku dalam rangkai tali jemuran, menggapai siang
terbang bersama asap dapur yang mengepul, berbagi mangkuk sup
lalu celoteh burung berkeciap dikejar anak-anak kita, selurus zaman

kita adalah rumah yang tumbuh, sekeranjang kisah di atas taplak rumputan
sesekali hujan lalu melengkung pelangi, jalanan ini masih setia
lalu langit mengembang, bumi kita adalah kita


Jumat, 10 April 2015

Kamis, 09 April 2015

biarkan ia tak bernama

seperti waktu yang sejatinya tak punya nama, kucoba menyebut satu titik di benak untuk kuseru, berpalingkah?
seperti ruang yang ada oleh sebab manusia pandai membuat batas meski ia terpenjara sendiri, kucari dimana kini kudiam, selatan utarakah?

bahkan pagi siang sore malam
bahkan timur barat tenggara kanan kiri
ada dari ketiadaan
sebagaimana proses penciptaan, ia ada untuk tiada
dan berdaya di antara keduanya


mencari nama untuk segala hal, terkadang menjauhkan mutiara yang hampir tergenggam
banyak hal cahaya justru saat ia tak beridentitas, namun ada
nyala di dalam
bersinar pada semesta

Selasa, 24 Maret 2015

Jelang Maghrib


1.
dan langit menangis
bumi bertasbih
dengar adzan
menyeru

2.
manusia gegas
menuju apa
prioritas
jiwanya
3.
duhai ruh dan tubuh
jangan bilang kau
saling jauh
membangkai
4.
kembali adalah
kesejatian
manusia
padaNya

Senin, 23 Maret 2015

Jangan Mimpi

sangkamu rembulan
bisa menyulap
kertas biru
memutih?

Kumpulan Sonian (lagi)

DOA
ruhani melangit
tembusi bulan
khauf raja'
meraja

karpethijau. 23.03.15


EPISODE PAGI

piring, baju, sayur
dan matahari
berkejaran
di dapur


grt. 22.03.15


MENGAJI (6)

kitabMu terbentang
jatuhkan malam
tepi merah
bicara
‪#‎salampagi‬ - 210315


SONIAN HUJAN

hujan seret luka
menggusur amis
batu kecil
tersisa
grt.0315


KECEWA

memang siang malam
tak sekalipun
salin tempat
terima!


TENTANG RINDU

andai punya nama
kupanggil engkau
dari dasar
nurani


NYANYI SUNYI

pada dahagaku
yang menua
kuseru kau
kenangan
lib. 18.03.15

Senin, 16 Maret 2015

tentang rindu

gelisah ini gerangan apa namanya?
rindukah?
pada siapa?
pada apa?
pada kapan?
pada bagaimana?

kerinduan pada keadaan
yang mengantarkanku di titik ini
pada waktu?
pada jarak?
pada ruang?

atau pada sesuatu yang tak terkira?

duhai rindu
bila ini bernama rindu
birukah engkau?


Minggu, 15 Maret 2015

di tepian masa

entah sudah berapa lama ku berjalan, pada hitungan ke seratus?
entah sudah berapa jauh ku menempuh, pada jarak ke seribu?

pertanyaan tak selalu berujung jawaban
sebab hidup seringkali tak selalu sebab akibat
benarkah?
bahkan hukum kausalitas tak jua kukhatami

hari ini aku merasakan rindu yang tak tertahankan
pada masa yang pernah kutemui di sebuah keheningan
padamukah?
atau tidak pada siapa-siapa?

lalu harus kukemanakan tanya ini ditujukan?
atau tak harus ada tanya?
sebab sekali lagi
tak harus ada jawab bagi setiap tanya

baiklah, aku tak akan bertanya lagi
kugantung bersama rembulan
biarlah ia menjadi tetes akhir
bagi dahagaku
yang
tua

bahasa langit

bahasa langit