Senin, 20 Maret 2017

kata yang menjelma raksasa

hari ini kata-kata bisa beranak pinak
sekata di hulu
semenit berlalu
anak cucunya mengantri seperti kelinci
lalu kata-kata jadi tak punya badan
barangkali menjelma raksasa
atau bergerilya seperti kutu

              "akan datang suatu masa
               dimana fitnah meraja lela"

ruhnya melayang-layang
tak tahu jalan pulang

#huruf_kecil_saja

Jumat, 03 Maret 2017

timbangan

Seringkali seribu satu gundah, marah dan kecewa hanya tersimpan dalam dada. Tak sempat disampaikan. Oleh sebab banyak pertimbangan. Bukan tak hendak. Sejatinya ia menggedor-gedor hasrat untuk dimuntahkan.

Ketika telah tersusun kalimat dalam rencana. Satu sisi pikir mencegah. Memberi saran untuk menyunting kembali kata-kata, agar lebih cantik. Tidak berisi kotoran.

Nyatanya proses menimbang tak selalu berakhir lekas. Waktu yang panjang kemudian memberi ruang untuk melapangkan dada. Pada akhirnya ia mengendap di dasar. Atau menguap entah kemana.
Tuhan telah mengambil alih, rupanya. Syukurlah.

pagi beranjak
pada reranting kering
tunas menyembul

Meraih Bintang

Kutatap gadis itu. Serius membuat catatan. Beberapa buku terbuka di sekelilingnya. Kamar itu penuh dengan buku. Ah, Nak, begitu tekun engkau belajar.
Besok Try Out. Dilanjut tes masuk Pesantren. Tak lama berselang akan menghadapi rangkaian ujian akhir sekolah. Dinding kamarnya penuh dengan catatan, jadwal dan kata-kata motivasi. Ada target yang ingin ia capai.
Benar. Ikhtiyar dengan maksimal, Nak. Kelak, Allah Yang Maha Baik akan memberi yang terbaik untuk setiap usaha yang kau tempuh.

berkawan hening
pena putih menari
meraih bintang

tak ada judul

aku menulis puisi
tanpa judul
untuk sebuah hari yang dipenuhi wajah raja

tentang harapan dan bunga
tentang keindahan dan liburan
tentang hapalan juz sang raja
tentang para pangeran
tentang wewangian 


tentang semua yang indah saja
meski hari ini tak semuanya bening

aku menulis puisi
untuk sebuah hari yang dipenuhi wajah raja
untuk sebuah negeri yang disinggahi duli raja
di dalam hujan

diguyur hujan
hangat lambaian tangan
sambut sang raja

Rabu, 15 Februari 2017

Pilkada

hampir magrib, hujan lebat sangat
menenggelamkan euforia perhitungan suara pilkada
teriakan sukacita, gemuruh
kecewa dan sumpah serapah saling menindih

tabulasi berderet-deret
di tps sana
quick count berbuih-buih
televisi memutar angka

kotak-kotak suara di sudut
menadah curah hujan

di luar aliran air meninggi
menghanyutkan rumah-rumah bantaran kali
tangan-tangan mengais
kelingking berbekas tinta ungu

ditelan banjir bandang

katanya
ada Pilkada putaran ke dua



Selasa, 17 Januari 2017

Selamat Pagi, Hujan ...

selamat pagi, hujan
ada ribuan kisah yang mengalir
dan kanak-kanak berlarian sambil berteriak
hujaaan ...kirimi aku bunga!!
itu aku
kemarin

selamat pagi, hujan
kata-kata berlompatan bersama percik air
dan kerikil saling berbincang
di depan perpustakaan
itu mereka
hari ini

selamat pagi, hujan
kita bersua dalam basah yang ranum
mengeja kemarin dan hari ini
dan aneka payung berjajar di selasar hari
membincangkan masa depan
dalam warna yang bineka

selamat pagi, hujan
kapan engkau reda?

Rabu, 07 Desember 2016

Babancong

selarik angin tipis mengelupaskan kulit putih
yang menempel di liukan tubuh indahmu
seorang bocah bermain di kolong kakimu
sesekali mengintip dari sela ruang sejarah yang tidak tereja

suara Bung Karno sayup di antara beringin yang meliuk
"Kota Intan. Kota Intan."
tubuhmu menopang semangatnya yang menggelegar
berpuluh tahun lalu

delapan tiang putih menyangga kisah sejarah
jejak tak kentara pada anak tangga
menating guguran daun-daun kihujan
menghembuskan wangi melati dari taman Pamengkang

seorang bocah menaiki tanggamu, perlahan-lahan
dari celah pagar batu ia mengintip alun-alun
menyaksikan sejarah berlanjut
di pelukanmu

 pict by google



bahasa langit

bahasa langit