Jumat, 02 Juni 2017

Jelang Ramadhan



Seperti tahun-tahun lalu
kita memanjangkan kasih sayang 
pada para pini sepuh di lingkar kepulangan
Desa di kaki gunung Cikuray

(uluk salam
“semoga keselamatan senantiasa tercurah padamu”
maaf dimohonkan
“semoga saling menyucikan diri bagai pakaian putih yang bersih dari noda”
pelukan dan doa)

dari pintu ke pintu

dan angin menyampaikan bau lumpur
ketika pematangnya kutapaki
sementara matahari bersinar sehangat senyum
yang menyambut tangan kita
di setiap teras rumah

dari jauh kudengar suara anak-anak 
diterbangkan  kenangan
dari kerinduanmu yang kental

katamu: “ayat-ayat ini mengajariku mengaji, mengantarku padamu”

engkau di belakangku
pelan, penuh penghayatan
iringi langkahku yang terhenti

kuhirup udara ini sepenuh helaan napas

“duhai angin, esok Ramadhan
sampaikan salamku dari fajar ke fajar”


Mei 2017

Senin, 08 Mei 2017

Cinta

Aku ingin menulis tentang cinta
seperti bumi dan langit
yang memanjangkan sentuhan lewat hujan
rintiknya membuahi rahim bumi
mengekalkan persetubuhan suci

Melahirkan mata air
mengalirkan air mata


28 Maret 2017

Air Keras

Air wudlu sudah kering
wajah lega meninggalkan masjid di subuh yang hening
mestinya angin bicara seperti kemarin
menuntaskan Rencana hari ini
membuka arsip perkara perkara yang tak pernah habis 


Angkara murka tak hendak tidur
segelas air keras melubangi bulat mata
noda luka di dada keadilan

Di halaman masjid
benci dan suci berhadapan

15 April 2017

Bosan

Barangkali aku bosan
kepala tak bisa disimpan di lemari pendingin
lalu aku jalan jalan ke langit
sebentar saja
Memeluk awan lalu rebahan sambil memeluk bulan


Kelak kan kujemput kepala yang sudah beku
lalu kujilat seperti eskrim
dadaku akan dingin
hingga tak ada kebakaran yang kini
jadi musim

Barangkali aku bosan
Jadi kuselimuti batu hitam
dan kumasukkan kandang ayam biar dierami
Kelak akan.menetas
jelmalah varietas baru:
Bukan Batu

Ya, barangkali aku bosan
menyaksikan langit dan biji mahoni
yang hanya biru dan berasa pahit

#ngacaprux

Catatan Hujan

Mei tahun ini masih bernama hujan
selimuti pagi yang penuh rencana
teh poci hangat dan sepiring biskuit
bersama berita jelang sidang putusan penista agama

Sekarang sudah hampir jam tujuh
perjalanan masih penuh kelokan basah dan licin, kuambil secarik lap pel
sapu dan pewangi lantai

Ritual pagi membangun rumah menata tangga lalu
berpayung jadwal
susuri Mei hingga kelak berganti nama

Kutatah satu demi satu, perlahan saja

Dan kamu...
telah sejak tadi pergi

9 Mei 2017




Senin, 20 Maret 2017

kata yang menjelma raksasa

hari ini kata-kata bisa beranak pinak
sekata di hulu
semenit berlalu
anak cucunya mengantri seperti kelinci
lalu kata-kata jadi tak punya badan
barangkali menjelma raksasa
atau bergerilya seperti kutu

              "akan datang suatu masa
               dimana fitnah meraja lela"

ruhnya melayang-layang
tak tahu jalan pulang

#huruf_kecil_saja

Jumat, 03 Maret 2017

timbangan

Seringkali seribu satu gundah, marah dan kecewa hanya tersimpan dalam dada. Tak sempat disampaikan. Oleh sebab banyak pertimbangan. Bukan tak hendak. Sejatinya ia menggedor-gedor hasrat untuk dimuntahkan.

Ketika telah tersusun kalimat dalam rencana. Satu sisi pikir mencegah. Memberi saran untuk menyunting kembali kata-kata, agar lebih cantik. Tidak berisi kotoran.

Nyatanya proses menimbang tak selalu berakhir lekas. Waktu yang panjang kemudian memberi ruang untuk melapangkan dada. Pada akhirnya ia mengendap di dasar. Atau menguap entah kemana.
Tuhan telah mengambil alih, rupanya. Syukurlah.

pagi beranjak
pada reranting kering
tunas menyembul

Meraih Bintang

Kutatap gadis itu. Serius membuat catatan. Beberapa buku terbuka di sekelilingnya. Kamar itu penuh dengan buku. Ah, Nak, begitu tekun engkau belajar.
Besok Try Out. Dilanjut tes masuk Pesantren. Tak lama berselang akan menghadapi rangkaian ujian akhir sekolah. Dinding kamarnya penuh dengan catatan, jadwal dan kata-kata motivasi. Ada target yang ingin ia capai.
Benar. Ikhtiyar dengan maksimal, Nak. Kelak, Allah Yang Maha Baik akan memberi yang terbaik untuk setiap usaha yang kau tempuh.

berkawan hening
pena putih menari
meraih bintang

tak ada judul

aku menulis puisi
tanpa judul
untuk sebuah hari yang dipenuhi wajah raja

tentang harapan dan bunga
tentang keindahan dan liburan
tentang hapalan juz sang raja
tentang para pangeran
tentang wewangian 


tentang semua yang indah saja
meski hari ini tak semuanya bening

aku menulis puisi
untuk sebuah hari yang dipenuhi wajah raja
untuk sebuah negeri yang disinggahi duli raja
di dalam hujan

diguyur hujan
hangat lambaian tangan
sambut sang raja

Rabu, 15 Februari 2017

Pilkada

hampir magrib, hujan lebat sangat
menenggelamkan euforia perhitungan suara pilkada
teriakan sukacita, gemuruh
kecewa dan sumpah serapah saling menindih

tabulasi berderet-deret
di tps sana
quick count berbuih-buih
televisi memutar angka

kotak-kotak suara di sudut
menadah curah hujan

di luar aliran air meninggi
menghanyutkan rumah-rumah bantaran kali
tangan-tangan mengais
kelingking berbekas tinta ungu

ditelan banjir bandang

katanya
ada Pilkada putaran ke dua



Selasa, 17 Januari 2017

Selamat Pagi, Hujan ...

selamat pagi, hujan
ada ribuan kisah yang mengalir
dan kanak-kanak berlarian sambil berteriak
hujaaan ...kirimi aku bunga!!
itu aku
kemarin

selamat pagi, hujan
kata-kata berlompatan bersama percik air
dan kerikil saling berbincang
di depan perpustakaan
itu mereka
hari ini

selamat pagi, hujan
kita bersua dalam basah yang ranum
mengeja kemarin dan hari ini
dan aneka payung berjajar di selasar hari
membincangkan masa depan
dalam warna yang bineka

selamat pagi, hujan
kapan engkau reda?

bahasa langit

bahasa langit