Minggu, 16 November 2014

Elegi Negeri Ku



Sarapan pagi hari ini
Masih dengan menu Angelina Sondakh
Ditaburi selai asem asem manis nyanyian Nazaruddin
Dan olesan pedas Soetan Batugana
Kiranya badai partai masih saja terhidang di meja makan bangsa ini
Setiap pagi
Bahkan hingga tengah malam
Eneg, kebanyakan muslihat

Mereka bukan tak faham, bukan?
Bila seluruh negeri menatap opera tak bergenre ini

Beranjak ke pasar pagi
Tiba-tiba aku tak lagi pandai memilih daging
Karena segala dikepung formalin
Sapi, ayam, kambing, apapun namanya itu
Kini telah dikebiri dengan suntikan glonggongan bahkan tiren
alias mati kemaren
Bahkan telur ayam pun sudah pula disuntik
Barangkali pemiliknya ingin turut menyukseskan Pekan Imunisasi Nasional
Tak peduli suntikannya jadi pembunuh
Yang penting laba meninggi
Perlahan-lahan merusakkan jaringan syaraf anak-anak bangsa
Yang seharusnya kelak menjadi pengganti pemimpin yang hari ini berpesta
mengeruk apapun yang bisa dimasukkan dalam pundi-pundinya sendiri

tayangan investigasi di stasiun-stasiun televisi
laksana horror yang mengepung adrenalin
varian makanan kian penuh dengan racun
anak-anak disediakan hidangan aneka pengawet mayat dalam bentuk seindah-indahnya
aneka warna
aneka rasa
sungguh, anak mana yang tak terpikat

mereka, para pedagang, bukan tak faham, bukan?
hanya telah buta diperbudak syahwat

Ooi.., saudara-saudaraku
Gerangan negeri apakah ini?
Gemah ripah loh jinawi
Tanah surga yang menyulap hutan kayu dan batu jadi tanaman, kata Koes Plus
Kini, bahkan hutan tak lagi berhak atas pohon
lautan bukan surga bagi ikan-ikan kecil dan terumbu karang
jalanan telah menjadi lautan sampah
aroma persekongkolan merebak di segala lini
dan langitpun mulai melakukan demo
angin mengamuk menghantam pepohonan tua
banjir menghanyutkan rumah-rumah
api menyerang tak peduli cuaca hujan ataupun kemarau
apalagi yang tersisa?
Negeri apakah gerangan ini?

Disini aku dilahirkan
Disini aku dibesarkan
Dibuai dibesarkan lindu

Villa-villa di puncak makin jumawa
Petak rumah bantaran kali sesaat lagi terseret Banggar
bukan untuk memindahkan ke rumah berjendela, sebab
terlanjur habis memperempuk kursi anggota dewan yang terhormat
Entah dimana sebenarnya letak kehormatan?

Lindu itu masih belum usai
Setiap pagi, rumah-rumah itu masih goyang
oleh lenggok kenes Boy and Girlband
oleh gelimpangan mayat yang bahkan di trotoarpun mereka tak luput kena tubruk
oleh luka menganga seorang ibu korban perkosaan dalam angkot
oleh mayat tanpa kepala di belukar kota
oleh narkoba dan anak bangsa  yang semakin karib
oleh politisi yang berebut nama baik
dengan cara  menceburkan nama baiknya sendiri ke dalam got
oleh Julia Perez yang menemui Nyi Ratu Roro Kidul
oleh balita di pinggir ibu kota yang tak berdaya karena gizi buruk
oleh PSSI yang mencabuti setiap helai bulu Garuda Mudanya sendiri
oleh ironi yang datang dari gedung-gedung pengadilan
oleh lahirnya dukun-dukun cilik dari segala penjuru negeri
oleh tumpulnya nurani yang dikebiri

Ooi … saudara-saudaraku
kering sudah luka itu
mari kobarkan api revolusi!
Bangun pekerti dari rumah-rumah kita, serempak, bergelombang
jangan henti bergerak
duhai para ayah bunda, ajak putera-puteri kita
awali setiap hari dengan tahajud,
bangun kehormatan itu
seperti Rasulullah yang mulia memimpin Sayyidina Ali
seperti Rasulullah yang terpuji mengasuh Fatimah Azzahra

terlalu lama? Terlambat?
Tidak!
Jangan henti bergerak, wahai saudara-saudaraku
Kita kobarkan revolusi akhlak!!
Dari rumah-rumah kita, serempak, bergelombang
Kelak ia akan menggunung menggulung layaknya tongkat Musa membelah Laut Merah
Jangan henti bergerak
Demi Allah, kemenangan akan datang bagi mereka yang berjuang!!

Lindu itu memang  belum usai
tapi jangan henti berproses
Kelak pintu langit akan terbuka
Meredakannya

Engkau percaya?
Aku percaya!

(13 Pebruari 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

bahasa langit

bahasa langit